Senin, 18 Januari 2010 | 10:49 WIBUNTUNG tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Begitulah pernak-pernik kehidupan di dunia ini. Namun cobaan yang dihadapi Rika Budiaty (38), ibu dua anak warga Perumahan Graha Bukit Raya I Blok F4 RT 12/21, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, sungguh terasa berat bagi semua orang.
Selama hampir dua tahun lamanya, ibu dari Alif (10) dan Baehaki (5) ini tak sadarkan diri alias koma dan hanya terbujur kaku di tempat tidur. Kondisi tubuhnya sangat menyedihkan, tinggal tulang berbalut kulit. Mulutnya menganga dengan mata melotot. Tak ada respons sedikit pun jika ada orang yang datang menjenguknya.
Agar nyawanya tetap bertahan, istri Isro Santosa (39) ini terpaksa dibantu dengan sejumlah alat yang dimasukkan pada tubuhnya. Sebuah selang kecil dimasukkan ke lubang hidungnya untuk memasukkan makanan yang telah dihaluskan. Agar memasukkan sari pati makanan ini berjalan lancar, prosesnya didorong oleh sebuah pompa.
Sebaliknya, untuk mengeluarkan cairan dari tubuhnya atau semacam dahak yang kerap menyesaki tenggorokan, bagian lehernya terpaksa dilubangi. Melalui selang kecil, cairan dari dalam tenggorokan itu disedot oleh sebuah pompa bertenaga listrik. Karena tak bisa menggerakkan tubuhnya, semua aktivitas kehidupannya dihabiskan dengan berbaring di sebuah ranjang.
Ditemui dirumahnya yang mungil, Sabtu (16/1), Rika, yang sebelumnya adalah pegawai tata usaha di SMP PGRI I Cimahi, hanya tergolek lemah. Sesekali terdengar tarikan napasnya. “Ini tandanya ada cairan di tenggorokannya yang harus segera disedot,” ujar Euis Mintarsih (64), ibu Rika, yang setia merawatnya.
Menurut penuturan Euis, musibah yang menimpa anak keduanya ini bermula saat sepeda motor yang dikendarainya tersenggol oleh sebuah mobil di depan Bank BCA Cimahi. Peristiwa itu terjadi pada 14 Februari 2008. Saat itu Rika hendak kembali ke rumah setelah mengantarkan anak pertamanya sekolah.
“Setelah motornya kesenggol mobil, dia (Rika, Red) langsung jatuh dan saat itu juga tak sadarkan diri sampai sekarang,” kata Euis, sedih.
Ironisnya, kata Euis, sopir yang menyenggol sepeda motor yang dikendarai Rika itu justru kabur dan hingga kini tak bertanggung jawab. “Yang saya dengar dari saksi di tempat kejadian, mobil yang menyenggol motor anak saya itu jenisnya Suzuki Carry,” ujar Euis.
Begitu jatuh dari sepeda motor, Rika pun dilarikan ke puskemas terdekat, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Namun selama tiga bulan dirawat di RSHS, tak ada perkembangan berarti. Wanita periang itu tetap tak sadarkan diri. Dengan alasan biaya, pihak keluarga pun memboyong kembali ke rumah.
Selama berbulan-bulan dirawat di rumah ternyata tak kunjung membaik. Pihak keluarga kemudian memboyong ke salah satu rumah sakit swasta di Bandung. “Kata dokter di rumah sakit itu, di kepala anak saya ada cairan dan harus dioperasi,” ujar Euis.
Namun, karena tak memiliki biaya, operasi itu urung dilakukan. Bahkan pihak keluarga memilih memboyong kembali ke rumah karena keterbatasan biaya. “Biaya operasi dan perawatannya mahal. Kami nggak memiliki dananya. Akhinya terpaksa dirawat kembali di rumah,” ujar Euis, lirih.
Isro Santosa, suami Rika, adalah karyawan biasa di salah satu perusahaan di daerah Cimahi. “Selain secara medis, kami juga berikhtiar dengan pengobatan tradisional. Tapi mungkin belum saatnya sembuh,” ucap Euis.
Rika sendiri memiliki pribadi yang menyenangkan. Menurut Heny Nurbayanti, rekan sekolahnya saat di SMP 14 Bandung, yang hingga mereka dewasa tetap menjalin komunikasi, Rika adalah wanita periang yang memiliki solidaritas tinggi pada rekan-rekannya.
Karena itu pula, tak heran rekan?rekannya saat di SMP menyumbangkan sejumlah dana untuk membantu meringankan beban yang dideritanya. “Rika merupakan bagian dari kami, alumni SMP 14 Bandung angkatan 1987 (1487). Dalam keadaan senang maupun susah, kami tetap bersama,” kata Heny, seraya berharap semua pihak ikut peduli dengan penderitaan yang dialami Rika. (Ichsan)
terima kasih atas doa dan perhatiannya terhadap temanku, hari ini Rika masih belum sembuh walau ada kemajuan sedikit sekali dari kebiasaannya dulu. Ketika diajak bicara, dia hanya bisa meneteskan air mata. cairan asing diotaknya harus dikeluarkan tetapi besar sekali biaya yang harus dikeluarkan untuk kesembuhannya. Apa daya temanku Rika hanya seorang Staff Administrasi SMP Swasta di Cimahi.
Posted by soklari | 21/03/2010, 06:01